Sebuah Pertemuan

Saya percaya setiap pertemuan yang terjadi dalam hidup kita sudah ditakdirkan Tuhan. Seperti pertemuan dengan supervisor salah satunya. Kebanyakan orang berkata bahwa salah satu keberhasilan seorang mahasiswa PhD berada diantara hubungan mahasiswa tersebut dengan supervisor. Bagaimana kita menjaga hubungan yang baik dengan supervisor, nurut, santun, dll. Walaupun faktor lain juga berpengaruh, pastinya. Mendapatkan supervisor yang baik, enak, care, dan satu frekuensi pun bisa dibilang hoki. Saya merupakan salah satu mahasiswa hoki. 
How I met my supervisor? I do not know exactly. It just happened. Haha. Saya termasuk orang yang banyak menghubungi professor di berbagai negara (maklum, pemburu beasiswa). Mendapatkan professor juga tidak mudah. Tidak jarang saya ditolak atau bahkan mereka tidak membalas email saya. Ini merupakan hal yang wajar, karena mungkin saja kualifikasi saya tidak memenuhi standar yang mereka harapkan. 
Sebelum bertemu dengan supervisor saya sekarang, saya pernah bertemu dengan seorang professor yang super nice dari Australia. He is a nice person, but I ended up chose another guy. Sorry, Sir :(. I felt bad, even now. Mengapa saya betrayed him? Haha. Not literally. Saya berkenalan dengan professor dari Australia karena beliau merupakan supervisor mama saya. Saya sangat dibantu oleh beliau dalam mempersiapkan aplikasi untuk Australia Awards Scholarship (AAS). Bahkan beliau menelpon lewat nomer telepon (yang biasanya pake skype). Sayangnya, setelah dua kali gagal mendaftar AAS saya harus merelakan melepas si bapak yang baik ini. 

Kemudian saya mencari peluang di UK dan sampailah di website universitas saya sekarang. Saya menjalani tes administrasi secara online kemudian sekitar sebulan kemudian menjalani wawancara dengan supervisor. Setelah menjalani wawancara melalui skype ditanyain ini itu, saya merasa it went awful. Saya putus asa dan perasaan ini bertambah ketika hampir sebulan tidak mendapatkan kabar. Saya hanyalah manusia biasa, dan kemudian saya ‘balik kucing’ mendaftar ke Australia. 

Sebenarnya dengan beasiswa LPDP yang saya dapatkan, saya dapat memilih universitas mana saja yang saya inginkan, yang artinya saya bisa memilih Australia. Tapi kembali lagi, saya hanyalah manusia biasa (hahaha, ini mencari justifikasi) karena sebenarnya UK adalah negara impian saya sejak saya datang ke UK dan hadir di salah satu graduation sepupu saya. Tetapi saya merupakan pemburu beasiswa, jadi peluang beasiswa dimanapun saya coba, termasuk Australia. Saya sempat berpikir bahwa mungkin takdir saya di Australia. Jadi, singkat cerita saya mencari LoA untuk Australia. Dua minggu kemudian LoA Australia saya dapatkan dan selang beberapa hari kemudian, LoA dari universitas di UK juga release dengan unconditional acceptance.

Disinilah kegalauan terjadi. Ini tidak mudah. Kedua supervisor saya ini baik (kok bisa tahu? Yang di UK kan belum berhubungan?) tidak tahu mengapa dan bagaimana sejak berhubungan melalui email dengan professor di UK, saya merasa bapaknya ini baik. Hanya bermodal perasaan haha (dasar cewe baper). Daaan perasaan saya benar. Si bapak UK ini sangat baik dan perhatian. Saya bukan orang bright seperti teman-teman saya. Saya cuma potato. Random person. Tapi bapaknya mengerti sekali keadaan saya dan banyak menolong saya. Saya sangat berterima kasih (terharu juga). Meanwhile, guilty juga menghantui saya karena membiarkan peluang dibimbing professor Australia melayang karena bapaknya tidak kalah baik. Kebangetan baiknya. Oh iya, saya juga sempat bertemu dengan beliau ketika beliau berkunjung ke Surabaya. Maafkan saya, Pak. 
Di sisi lain (ah banyak banget sisinya haha), saya merasa…entah perasaan apa ini. Menyesal? Bukan. Entah apa. Karena di UK ini, professor saya merupakan orang terkenal di dunia per-kimia-an dan per-jurnal-an. Beliau hebat. Kami, sebagai muridnya setiap hari Jumat melakukan problem session. Apa itu? Ini adalah hari pembantaian (haha menurut saya). Atau horror karena menyeramkan. Mengapa seram? Karena di dua jam pertemuan ini kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok setiap minggunya (digilir) harus membawakan sebuah literatur dari paper terkini. Paper tersebut boleh tentang kimia organik apa saja. Setelah itu satu jam berikutnya ada seorang PIC yang terjadwal untuk membuat soal-soal kimia dengan topik yang bisa apapun untuk dibagikan dan dikerjakan satu persatu di whiteboard. Sounds scary, isn’t it? For me, it is very scary. Mengapa? Karena basic saya lemah. Tidak bisa dipungkiri sistem pendidikan di negara maju ini dan di negara saya sangat berbeda. Mereka menekankan dasar yang sangat kuat. Di negara saya, hanya permukaan saja. Bahkan ada hal-hal yang baru saya jumpai ketika disini (dulu kuliah di indonesia kemana saja. Haha). Advantage dari keseraman hari jumat ini membawa saya pada:

1 Saya harus belajar lebih keras

2 Membuat saya bukan menjadi seorang kimiawan yang abal-abal karena mempunyai basic yang kuat

3 Membuat saya mempelajari hal-hal baru 

Ditambah lagi bahwa setiap tahun ada ujian lisan tentang hasil selama setahun. Kalau di Australia? Saya rasa tidak ada hal semacam ini (ujian per tahun) dan problem session meeting (yang bahkan di satu departemen kimia di uni saya pun juga belum tentu ada).

Inilah yang saya sebut bahwa semua pertemuan adalah takdir. Mungkin Tuhan ingin saya menjadi ilmuwan yang lebih seterooong. Bukan berarti saya jika di Australia tidak menjadi kuat. Tapi saya disini merasa benar-benar ‘digodok’ (re: direbus). Karena tidak mengenal siapapun (jika di Australia, si Bapaknya mengenal mama saya dan dosen-dosen saya).

Saya bahkan merasa sangat kecil, because I know nothing. Professor saya terkenal, keren, bright mau menerima saya yang seperti lontong ini dengan segala kekurangan saya. Terima kasih, Pak. Kadang saya juga merasa heran mengapa si Bapak yang terkenal ini mau menerima saya menjadi mahasiswanya hahaha (bukan underestimate diri sendiri, tapi #*%$*#% —ekspresi yang tidak bisa diungkapkan dengan tulisan hahaha)
Even now, I am still wondering: 

Seandainya saya memilih Australia, akankah sama?

Akankah sama segala kecemasan ini?

Akankah sama setiap detak jantung ketakutan di hari Jumat?

Akankah sama ketegangan menyampaikan paper yang saya presentasikan?

Akankah sama? 

Dan pertanyaan ini terus bergaung di pikiran saya. Hanya Tuhan yang tahu.
Selamat malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s